Selasa, 18 Agustus 2009
Kamis, 02 Juli 2009
Intisari Renungan Harian (4)

Stop Mengeluh
Baca: Bilangan 11:1-3
Ayat Mas: Filipi 4:4
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! …..”
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN
PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR
Penulis: Ayub Yahya
(Renungan Harian, 1 Juli 2009)
Senin, 22 Juni 2009
Rabu, 17 Juni 2009
Intisari Renungan Harian (3)


TERTAWA ITU SEHAT
Amsal 17 : 22
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang"
Tertawa dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Suatu penelitian menyebutkan bahwa suara tawa dapat membuat tubuh lebih kebal dari penyakit hingga 40 persen. Tertawa menjadikan tubuh kita lebih aktif menghadang infeksi dan kuman penyakit. Tertawa juga mempermudah pernapasan. Dengan tertawa, udara jenuh dalam tubuh lebih mudah keluar. Udara tersebut akan digantikan oleh udara segar yang diperlukan tubuh. Pergantian udara memperkaya kandungan oksigen dalam darah serta membersihkan alat-alat pernapasan.
Tertawa itu menyehatkan. Bukan hanya bagi tubuh, namun juga bagi hati. Hati yang gembira bersukacita di dalam Tuhan, melayani Dia dengan gembira, dan menikmati kebaikanNya. G.K. Chesterton berpendapat, ibadah kita seharusnya menjadi sukacita tanpa akhir. Sayangnya, menurut pengamatan Philip Yancey, orang kristiani cenderung hebat dalam bekerja, ahli dalam berdoa, namun tertinggal dalam soal tawa tertawa. Kalau tidak percaya, silahkan saja bertanya, apa kesan orang pada umumnya tentang kekristenan. Apakah "keriangan" termasuk gambaran yang melintas dalam benak mereka?
Kemampuan untuk tertawa, terlebih mentertawakan diri sendiri, termasuk salah satu tanda kedewasaan. Di satu sisi, tertawa memperlihatkan kesadaran dan penerimaan : bahwa kita ini memang makhluk-makhluk berdosa yang ada kalanya bertingkah bodoh, dan karena itu menggelikan. Di sisi lain, tertawa menyiratkan pengakuan : bahwa hanya dengan pertolongan Tuhanlah kita bisa mengatasi kebodohan tersebut.
Nah, sudahkah Anda tertawa hari ini?
(Renungan Yayasan Gloria, 8 Juni 2009)
Selasa, 26 Mei 2009
Sebaran Materi UU X BC 0809
1. Bab 1 : HAKIKAT BANGSA DAN NEGARA
a. Unsur-unsur terbentuknya negara
b. Pentingnya pengakuan negara lain bagi suatu negara
c. Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
d. Penerapan Nasionalisme dan Patriotisme
2. Bab 2 : SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL
a. Pengertian hukum
b. Klasifikasi hukum menurut bentuk dan tempat berlakunya
c. Sikap-sikap yang sesuai/tidak sesuai dengan hukum
d. Upaya pemberantasan korupsi oleh pemerintah dan warga negara
3. Bab 3 : HAK ASASI MANUSIA
a. Jenis-jenis HAM
b. HAM WNI dalam UUD 1945 (pasal 27, 28F, 29, 31)
c. Upaya penegakan HAM di Indonesia oleh pemerintah dan warga negara
4. Bab 4 : HUBUNGAN DASAR BEGARA DAN KONSTITUSI
a. Proses perumusan dasar negara Indonesia
b. Proses perumusan konstitusi Indonesia
c. Kedudukan Pembukaan UUD 1945 terhadap NKRI
5. Bab 5 : PERSAMAAN KEDUDUKAN WNI
a. Status kewarganegaraan (ius soli, ius sanguinis, apatride, bipatride, hak opsi, hak repudiasi)
b. Cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia
c. Persamaan kedudukan WNI dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
6. Bab 6 : SISTEM POLITIK INDONESIA
a. Suprastruktur dan infrastruktur politik
b. Dinamika politik di Indonesia
c. Sistem politik liberal dan komunis
d. Peran serta WNI dalam sistem politik Indonesia
a. Unsur-unsur terbentuknya negara
b. Pentingnya pengakuan negara lain bagi suatu negara
c. Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
d. Penerapan Nasionalisme dan Patriotisme
2. Bab 2 : SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL
a. Pengertian hukum
b. Klasifikasi hukum menurut bentuk dan tempat berlakunya
c. Sikap-sikap yang sesuai/tidak sesuai dengan hukum
d. Upaya pemberantasan korupsi oleh pemerintah dan warga negara
3. Bab 3 : HAK ASASI MANUSIA
a. Jenis-jenis HAM
b. HAM WNI dalam UUD 1945 (pasal 27, 28F, 29, 31)
c. Upaya penegakan HAM di Indonesia oleh pemerintah dan warga negara
4. Bab 4 : HUBUNGAN DASAR BEGARA DAN KONSTITUSI
a. Proses perumusan dasar negara Indonesia
b. Proses perumusan konstitusi Indonesia
c. Kedudukan Pembukaan UUD 1945 terhadap NKRI
5. Bab 5 : PERSAMAAN KEDUDUKAN WNI
a. Status kewarganegaraan (ius soli, ius sanguinis, apatride, bipatride, hak opsi, hak repudiasi)
b. Cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia
c. Persamaan kedudukan WNI dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
6. Bab 6 : SISTEM POLITIK INDONESIA
a. Suprastruktur dan infrastruktur politik
b. Dinamika politik di Indonesia
c. Sistem politik liberal dan komunis
d. Peran serta WNI dalam sistem politik Indonesia
Rabu, 20 Mei 2009
Untukmu Ibu......
Ibu, pagi-pagi sekali,
selagi hari masih dini....
kau bergegas berbenah diri.
Hampiri Allah Maha Tinggi,
lantunkan puja dan puji.
Sujud bertelut rendah hati,
kau sebut nama-nama kami
tanpa satupun terlewati.
Sejuta permohonan yang hakiki
bagi kami yang kau kasihi
Harimu masih berlanjut....
seribu satu persoalan kau liput....
semua kau tuntaskan dengan patut
hingga malam larut,
tanpa bersungut-sungut
Naik syukur kami tak henti-henti
kepadaMu Tuhan Maha Pengasih,
yaitu Yesus Sang Pemberi...
untuk hadir 'mu Ibu terkasih
di hidup kami....
Langganan:
Postingan (Atom)